Wednesday, 17 April 2019

Pengaruh daya anti bakteri yogurt, kefir, yakult terhadap bakteri staphylococcus aureus.



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Judul Penelitian:
Pengaruh daya anti bakteri yogurt, kefir, yakult terhadap bakteri staphylococcus aureus.

B.     Latar Belakang:
Dermatosis vesikobulosa merupakan suatu penyakit kulit dengan gambaran klinis berupa vesikel atau bula; di mana vesikel adalah suatu lenting kecil dengan diameter > 0,5 cm dan bula adalah suatu lepuh yang lebih besar dengan diameter > 0,5 cm. Pecahnya vesikel atau bula akan menimbulkan suatu erosi bahkan bisa sangat luas. Erosi yang luas dapat menjadi rentan terhadap infeksi sekunder,  di mana tidak berhubungan dengan patogenesisnya namun penanganan erosi kulitnya sama. Kasus tersebut yang paling berisiko untuk terjadi infeksi sekunder karena erosi yang luas dan sering tidak ditempatkan dalam ruang isolasi.
Adanya infeksi akan meningkatkan risiko terjadinya angka kesakitan yang lebih berat dan risiko kematian yang meningkat karena adanya sepsis. Berdasarkan hasil kultur aerob penyebab infeksi sekunder penderita dermatosis vesikobulosa didapatkan 5 jenis kuman, yaitu Staphylococcus aureus, Streptococcus viridans, Streptococcus koagulase negatif, Enterobacter aerogenes, dan Escherechia coli. Di antara 5 kuman tersebut paling banyak dalah Staphylococcus aureus sebanyak 42,1%.  Staphylococcus aureus merupakan bakteri kelompok Gram positif yanng memilliki bentuk coccus atau berbentuk bulat.  Staphylococcus aureus bersifat hemolitik ketika ditanam dalam darah.
Terdapat sebuah penelitian yang dilakukan oleh Purwajatiningsih (2013) tentang daya hambat bakteri asam laktat Lactobacillus casei Strain Shirota dalam produk Yakult terhadap bakteri Stapylococcus aureus. Berdasarkan penelitian tersebut, Lactobacillus casei Strain Shirota menghasilkan zat antimikroba yang memiliki kemampuan daya hambat untuk menghambat bakteri pathogen dengan zona hambat 12,56 mm2 terhadao Staphylococcus aureus. Sementara itu, Khairunnisa (2016) juga melakukan penelitian tentang perbandingan aktivitas antibakteri antara Lactobacillus casei dalam produk minuman berprobiotik terhadap bakteri Stapylococcus aureus. Berdasarkan penelitiannya, terdapat hasil yang signifikan dari penggunaan minuman berprobiotik tersebut terhadap bakteri Stapylococcus
Minuman berprobiotik saat ini sudah sangat mudah ditemui di pasaran. Banyak produk pabrik dengan olahan bakteri asam laktat diantaranya yaitu Yakult, Yogurt dan Kefir.

C.    Rumusan Masalah:
Bagaiman daya anti bakteri yogurt, kefir, dan yakult mempengaruhi bakteri Staphylococcus aureus?

D.    Tujuan Penelitian:
Mengetahui bagaimana daya anti bakteri yogurt, kefir, dan yakult dapat mempengaruhi bakteri Staphylococcus aureus?

E.     Manfaat Penelitian:
1.      Sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya.
2.      Memberikan kontribusi bagi masyarakat.













BAB II
Tinjauan Pustaka
Bakteri asam laktat adalah kelompok bakteri yang mampu mengubah karbohidrat (glukosa) menjadi asam laktat. Efek bakterisidal dari asam laktat berkaitan dengan penurunan pH lingkungan menjadi 3 sampai 4,5 sehingga pertumbuhan bakteri lain termasuk bakteri pembusuk akan terhambat Pada umunya mikroorganisme dapat tumbuh pada kisaran pH 6-8 (Amin dan Leksono, 2001).
Pemanfaatan BAL oleh manusia telah dilakukan sejak lama, yaitu untuk proses fermentasi makanan. BAL merupakan kelompok besar bakteri menguntungkan yang memiliki sifat relatif sama. Saat ini BAL digunakan untuk pengawetan dan memperbaiki tekstur dan cita rasa bahan pangan BAL mampu memproduksi asam laktat sebagai produik akhir perombakan karbohidrat, hydrogen peroksida, dan bakteriosin. Dengan terbentuknya zat antibakteri dan asam maka pertumbuhan bakteri pathogen seperti Salmonella dan E. coli akan dihambat (Silalahi, 2000).
Efektivitas BAL dalam menghambat bakteri pembusuk dipengaruhi oleh kepadatan BAL, strain BAL, dan komposisi media. Selain itu, produki substansi penghambat dari BAL dipengaruhi oleh media pertumbuhan, pH, dan temperature lingkungan.
Jenis susu fermentasi dibedakan berdasarkan metode fermentasi atau prosesnya, yang terkait dengan mikroba yang terlibat didalamnya. Tiap jenis susu fermentasi melibatkan mikroba spesifik, namun demikian terdapat kesamaan yang kuat dalam teknologi produksi yang digunakannya. Fermentasi susu secara umum melibatkan metabolisme laktosa, disakarida dalam susu menjadi asam laktat, oleh bakteri asam laktat terutama Lactococci dan Lactobacilli. Dalam memproduksi susu fermentasi yang baik perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: susu segar bermutu tinggi, rendah kandungan cemaran bakterinya, dipasteurisasi dengan tepat, menggunakan kultur bibit (starter) yang aktif dan tepat, pendinginan yang cepat dan sanitasi yang baik. Seleksi kultur starter dan kondisi fermentasi memegang peranan penting dalam proses susu fermentasi (Surono, 2004).
Kefir merupakan produk olahan fermentasi dari susu. Kefir dibuat dengan menambahkan butiran kefir atau grains kefir ke dalam susu. Kefir merupakan produk susu fermentasi dapat dibuat dari bahan baku susu sapi, susu kambing atau susu domba dengan menambahkan bibit kefir (kefir grains) yang terdiri dari bakteri asam laktat dan khamir (Kosikwoski, 2001). Kefir adalah produk susu fermentasi yang mempunyai rasa yang spesifik sebagai hasil fermentasi bakteri asam laktat dan khamir (ragi) yang hidup bersama-sama dan saling menguntungkan.
Kefir sangat bermanfaat bagi tubuh selain memperoleh nilai nutrisi yang baik, kefir juga memberikan manfaat kesehatan yaitu bermanfaat bagi pencernaan karena dapat menghambat pertumbuhan bakteri phatogen (Zakaria, 2009). Pendapat serupa tentang kefir juga diungkapkan oleh Kustiawan (2010) bahwa Kefir merupakan susu fermentasi menggunakan kefir grain, yang terdiri atas bakteri dan khamir. Kefir adalah salah satu produk makanan fungsional, yaitu makanan yang berfungsi sebagai sumber nutrisi dan juga berkhasiat terapeutik (menguntungkan bagi tubuh) karena mengandung komponen bioaktif, sehingga berpotensi menjaga kesehatan tubuh.
Yakult adalah minuman probiotik mirip yogurt yang dibuat dari fermentasi skimmed milk dan gula dengan bakteri Lactobacillus casei. Karena L. casei Shirota dapat ditemui dalam sistem pencernaan, Yakult dipromosikan sebagai minuman yang baik untuk kesehatan. Minuman yang mengandung bakteri yang bermanfaat untuk menekan pertumbuhan bakteri jahat. Yakult ditemukan oleh doktor Minoru Shirota pada 1930. Pada1935, ia mendirikan Yakult Honsha Co., Ltd. (Kabushiki-gaisha Yakuruto Honsha?) untuk memasarkan minuman ini. Sejak saat itu, Yakult telah memperkenalkan berbagai minuman yang mengandung bakteri Bifidobacterium breve, dan telah menggunakan lactobacilli untuk mengembangkan kosmetika. Yakult Honsha juga memainkan peran penting dalam penelitian obat kemotrapi irinotecan.
Yakult merupakan produk susu fermentasi dengan menggunakan starter tunggal yaitu Dornic atau 0,5% asam Lactobacillus casei. Kecepatan pertumbuhan bakteri ini berkisar 50 laktat setelah 48 jam. Lactobacillus casei berbentuk batang tunggal dan termasuk golongan bakteri heterofermentatif, fakultatif, mesofilik, dan berukuran lebih kecil dari pada Lactobacillus bulgaricus, Lactobacillus acidophillus, dan Lactobacillus helveticus. Lactobacillus casei akan merubah ribosa menjadi asam laktat dan asam asetat, perubahan ribosa diinduksi oleh faseketolase (Kurman, 1992).
Yogurt adalah koagulum susu yang dihasilkan oleh fermentasi asam laktat yang merupakan aktivitas dari Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus yang juga disebut starter yogurt dengan perbandingan 1:1 (Jay et al., 2005). Bakteri kokus tumbuh lebih cepat daripada bakteri yang berbentuk batang (rod) sekaligus merupakan produsen asam tertinggi, sedangkan bakteri yang berbentuk batang menghasilkan flavor dan aroma. Pertumbuhan asosiasi dari dua organisme tersebut menghasilkan produksi asam laktat yang lebih banyak dibandingkan jika diproduksi oleh masing-masing organisme secara tunggal.
Jay et al. (2005) melaporkan bahwa yogurt yang baru diproduksi mengandung sekitar 109 organisme/g, akan tetapi selama penyimpanan, jumlah tersebut akan menurun menjadi sekitar 106/g, khususnya ketika disimpan pada suhu 5oC selama 60 hari. Adapun kemampuan starter yogurt ini dalam mengkolonisasi usus masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan, saat ini terdapat konsensus diantara para ilmuwan bahwa kultur yogurt (Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus) tidak dapat menempel pada permukaan mukosa usus walaupun kadang-kadang terjadi hasil studi yang berbeda dikarenakan oleh berbedanya variasi galur (strain) starter yang digunakan, perbedaan dalam desain eksperimen, atau hasil dari studi pada hewan diterapkan secara salah kepada manusia.
Staphylococcus merupakan suatu kuman berbentuk sferis yang tumbuh bergerombol seperti buah anggur dengan ukuran diameter sekitar 0,5-1,5µm. Staphylococcus aureus memiliki warna keemasan ketika dibiakkan pada media solid, sesuai dengan namanya “aureus” yang berasal dari bahasa  Latin. Merupakan salah satu kuman flora normal yang ditemukan pada kulit dan hidung manusia. Sama seperti species Staphylococcus yang lain, Staphylococcus aureus bersifat non motil, non spora, anaerob fakultatif yang tumbuh melalui respirasi aerob atau fermentasi, dan termasuk bakteri kokus gram positif. Kuman ini juga dapat menghemolisis agar darah.


 








            Gambar 1. Mikroskopis Staphylococcus aureus
Staphylococcus aureus mampu menghasilkan enzim katalase yang berperan dalam proses pengubahan hidrogen peroksida (H2O2) menjadi hidrogen (H2) dan oksigen (O2), karena hal tersebut Staphylococcus aureus dikatakan bersifat katalase positif dimana hal ini dapat membedakannya dari genus Streptococcus. Staphylococcus aureus juga menunjukkan kemampuan untuk menghasilkan enzim koagulase yang dapat membedakannya dari Staphylococcus jenis lainnya, seperti Staphylococcus epidermidis. Staphylococcus aureus memiliki kemampuan untuk memfermentasikan manitol menjadi asam, hal ini dapat



dibuktikan bila Staphylococcus aureus dibiakkan dalam agar Manitol, dimana terjadi perubahan pH dan juga perubahan warna dari merah ke kuning.
Gambar 2. Staphylococcus aureus pada agar Manitol
Staphylococcus aureus merupakan salah satu kuman patogen yang berbahaya. Infeksi oleh Staphylococcus aureus dapat menyebar melalui kontak dengan nanah dari luka yang terinfeksi Staphylococcus aureus, kontak dengan kulit orang yang terinfeksi Staphylococcus aureus, kontak dengan karier Staphylococcus aureus, serta kontak dengan barang-barang, seperti handuk, seprei, pakaian, dan alat pencukur jenggot orang yang terinfeksi Staphylococcus aureus. Staphylococcus aureus dapat menimbulkan penyakit melalui kemampuannya tersebar luas dalam jaringan dan melalui pembentukan berbagai zat ekstraseluler.








BAB III
METODE PENELITIAN
1.      Jenis Penelitian
Jenis penelitian adalah eksperimen laboratorik dengan metode dilusi (sumuran). perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak empat kali pada tiga variabel bebas (yogurt, yakult, kefir) sehingga digunakan 60 unit percobaan.
2.      Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di laboratorium mikrobiologi fakultas kedokteran UNISSULA. Pada bulan Oktober-November 2018.
3.      Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah susu fermentasi komersil yaitu yogurt, yakult, dan kefir dengan dipilih jenis sampel yang plain (original). Bakteri uji yang digunakan adalah isolat Staphylococcus aureus.
4.      Variabel
Variabel penelitian terdiri dari tiga jenis, yaitu variabel bebas, variabel terikat dan variaabel kontrol. Variabel bebas pada penelitian ini adalah susu fermentasi komersil terdiri dari yogurt, yakult, dan kefir dengan empat tingkat konsentrasi, yaitu konsentrasi 0%, 25%, 50%, dan 100%. Semua perlakuan diulang sebanyak empat kali. Variabel terikat pada penelitian ini adalah daya antibakteri yang dilihat dari diameter zona hambat (zona bening). Variabel kontrol pada penelitian ini adalah aquades
Reserved: Keterangan :
n = jumlah pengulangan
t = jumlah perlakuan
Pengulangan dilakukan sebanyak empat kali dari hasil perhitungan yang diperoleh dengan menggunakan rumus Federer yaitu:
       (n-1) (t-1)      ≥ 15
(n-1) (3-1) (4-1)  ≥ 15
    (n-1) (2) (3)      ≥ 15
             (n-1) (6) ≥ 1 5
                (6n-6)   ≥ 1 5
                      6n   ≥ 21
                        n   = 4
untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel diamati/diteliti, variabel-variabel tersebut perlu dibatasi atau definisi operasional. Definisi operasional dari masing-masing variabel yang akan diteliti adalah sebagai berikut:
Variabel
Definisi
Cara Ukur
Alat Ukur
Skala
Konsentrasi susu fermentasi  komersil
Pemberian setiap jenis sampel (yogurt, yakult, dan kefir) dengan konsentrasi 0%, 25%, 50% dan 100%


ordinal
Zona hambatan
Diameter zona bening yang muncul disekitar lubang yang berisi larutan uji pada media MSA
Diukur dalam millimeter untuk mengetahui daya antibakteri yogurt, yakult dan kefir
Penggaris atau jangka sorong
Numerik

5.      Alat, bahan dan media
·         Alat
a.       Cawan petri
b.      tabung reaksi
c.       rak tabung reaksi
d.      cakram
e.       spatula incubator
f.       erlenmenyer
g.      pipet tetes
h.      gelas ukur
i.        jarum ose
j.        centrifuge
k.      Bunsen
l.        autoclave
m.    spirtus.
n.      masker
o.       sarung tangan
p.      tissue
q.      kertas label
r.        aluminium foil.
Bahan uji yang digunakan yogurt, yakut, kefir, aquades. Bahan lain yang diperlukan adalah media MSA dengan isolat bakteri Staphylococcus aureus dari laboratorium mikrobiologi fakultas kedokteran UNNISULA.
6.      Prosedur penelitian
a.       Sterilisasi
Semua alat yang akan digunakan dalam penelitian ini sebelumnya disterilkan dalam autoclave menggunakan suhu 121oC selama 15 menit
b.      Pembuatan suspensi bakteri
Dalam hal ini telah disediakan isolat Staphylococcus aureus dari laboratorium
c.       Prosedur pembuatan MSA
Dalam hal ini MSA telah disediakan dari laboratorium
d.      Pembuatan lubang sumur
·         Siapkan 20 cawan petri dan cetakan sumur dengan diameter ± 6mm dengan tinggi 1 cm, yang sebelumnya telah disterilkan. Setiap cawan petri ditandai menggunakan spidol di bagian bawah cawan petri menjadi empat bagian.
·         Dituangkan 100 µl suspensi Staphylococcus aureus dalam MRSA yang telah dibuat sebelumnya ke dalam media MSA, kemudian digoyangkan supaya homogen. Kemudian tuang MSA tersebut sebanyak 25 ml ke masing-masing cawan petri yang sudah diletakkan sedotan sebelumnya dan dibiarkan hingga agar MSA mengeras.
·         Tuangkan sampel (yogurt, yakult, kefir) sebanyak 50 µl dalam masing-masing sumur dan inkubasi selama 24 jam dengan suhu 37˚ C.
·         Tiap cawan petri berisi 4 jenis konsentrasi dan 1 cawan petri sebagai kontrol negatif
·         Kemudiaan sediaan diinkubasi pada suhu 37˚C selama 24 jam.
·         Keesokan harinya dilakukan pengukuran diameter zona hambat menggunakan jangka sorong.
7.      Alur Penelitian


























Reserved: Kemudian membuat sumuran dengan sedotan yang dipanaskan dicabut hinggga membentuk lubang/sumuran





Reserved: Ditutup dan diinkubasi selama 24 jam



Reserved: Diamati terbentuknya zona hambatan berwarna bening di sekitrar lubang/sumuran
 






















  1. Analisis Data
Data yang diperoleh adalah data primer, yang didapatkan dari hasil pengamatan dan pengukuran diameter zona bening di sekitar kertas cakram. Data dianalisis dan diuraikan secara deskriptif.
















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1.       Hasil dan pembahasan daya anti bakteri yogurt, kefir, dan yakult dapat mempengaruhi bakteri Staphylococcus aureus
a.    Yakult







Description: D:\data hafiz\S2 UNNES HAFIZ\MATAKULIAH S2 UNNES P.BIO\SMESTER1 S2\mikrobiologi terapan sms1\peneltian aureus\foto penelitian unisula\P_20181030_094605.jpg
Description: D:\data hafiz\S2 UNNES HAFIZ\MATAKULIAH S2 UNNES P.BIO\SMESTER1 S2\mikrobiologi terapan sms1\peneltian aureus\foto penelitian unisula\P_20181030_094647.jpg


Description: D:\data hafiz\S2 UNNES HAFIZ\MATAKULIAH S2 UNNES P.BIO\SMESTER1 S2\mikrobiologi terapan sms1\peneltian aureus\foto penelitian unisula\P_20181030_094635.jpg

 





Konsentrasi 25%
 
Konsentrasi 100%Description: D:\data hafiz\S2 UNNES HAFIZ\MATAKULIAH S2 UNNES P.BIO\SMESTER1 S2\mikrobiologi terapan sms1\peneltian aureus\foto penelitian unisula\P_20181030_094635.jpg % SAWISAWI
 
Konsentrasi 50%
 


Gambar 4.1. Zona bening probiotik yakult pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus.

b.    Yogurt
Description: D:\data hafiz\S2 UNNES HAFIZ\MATAKULIAH S2 UNNES P.BIO\SMESTER1 S2\mikrobiologi terapan sms1\peneltian aureus\foto penelitian unisula\P_20181030_095334.jpgDescription: D:\data hafiz\S2 UNNES HAFIZ\MATAKULIAH S2 UNNES P.BIO\SMESTER1 S2\mikrobiologi terapan sms1\peneltian aureus\foto penelitian unisula\P_20181030_095353.jpgDescription: D:\data hafiz\S2 UNNES HAFIZ\MATAKULIAH S2 UNNES P.BIO\SMESTER1 S2\mikrobiologi terapan sms1\peneltian aureus\foto penelitian unisula\P_20181030_095434.jpg  




Konsentrasi 25%
 
Konsentrasi 100%Description: D:\data hafiz\S2 UNNES HAFIZ\MATAKULIAH S2 UNNES P.BIO\SMESTER1 S2\mikrobiologi terapan sms1\peneltian aureus\foto penelitian unisula\P_20181030_094635.jpg % SAWISAWI
 
Konsentrasi 50%
 


Gambar 4.2. Zona bening probiotik yogurt pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus.





c.    Kefir
Description: D:\data hafiz\S2 UNNES HAFIZ\MATAKULIAH S2 UNNES P.BIO\SMESTER1 S2\mikrobiologi terapan sms1\peneltian aureus\foto penelitian unisula\P_20181030_095650.jpgDescription: D:\data hafiz\S2 UNNES HAFIZ\MATAKULIAH S2 UNNES P.BIO\SMESTER1 S2\mikrobiologi terapan sms1\peneltian aureus\foto penelitian unisula\P_20181030_095638.jpgDescription: D:\data hafiz\S2 UNNES HAFIZ\MATAKULIAH S2 UNNES P.BIO\SMESTER1 S2\mikrobiologi terapan sms1\peneltian aureus\foto penelitian unisula\P_20181030_095546.jpg    











Konsentrasi 100%Description: D:\data hafiz\S2 UNNES HAFIZ\MATAKULIAH S2 UNNES P.BIO\SMESTER1 S2\mikrobiologi terapan sms1\peneltian aureus\foto penelitian unisula\P_20181030_094635.jpg % SAWISAWI
 

Konsentrasi 50%
 

Konsentrasi 25%
 
 



Gambar 4.3. Zona bening probiotik kefir pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus.

d.   Aquadest






Description: D:\data hafiz\S2 UNNES HAFIZ\MATAKULIAH S2 UNNES P.BIO\SMESTER1 S2\mikrobiologi terapan sms1\peneltian aureus\foto penelitian unisula\P_20181029_135535.jpg


Konsentrasi 100%Description: D:\data hafiz\S2 UNNES HAFIZ\MATAKULIAH S2 UNNES P.BIO\SMESTER1 S2\mikrobiologi terapan sms1\peneltian aureus\foto penelitian unisula\P_20181030_094635.jpg % SAWISAWI
 
 








Gambar 4.4. Zona bening aquadest pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus.
4.2       Mengukur Zona hambat dengan menghitung diameter :
Tabel 4.1. Zona hambat probiotik yakult pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus.
Yakult 100%
Yakult 50%
Yakult 25%
Sumuran 1 = 1,68 cm
Sumuran 2 = 1,56 cm
Sumuran 3 = 1,43 cm
Sumuran 4 = 1,22 cm
Sumuran 1 = 1,5 cm
Sumuran 2 = 1,38 cm
Sumuran 3 = 1,38 cm
Sumuran 4 = 1,38 cm
Sumuran 1 = 1,47 cm
Sumuran 2 = 1,03 cm
Sumuran 3 = 1,21 cm
Sumuran 4 = 0,74 cm
x̅= 1,47 cm
x̅= 1,41 cm
x̅= 0,96 cm

Dilihat dari data tabel 4.1 di atas menunjukan bahwa Zona hambat probiotik yakult konsentrasi 100% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada sumuran pertama mendapatkan diameter zona bening 1,68 cm, untuk sumuran ke dua mendapatkan diameter zona bening sebesar 1,56 cm,  untuk sumuran ke tiga diameter yang dihasilkan 1,43 cm dan untuk sumuran ke empat diameter yang dihasilkan 1,22 cm, dengan rata-rata zona hambat probiotik yakult konsentrasi 100% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus sebesar 1,47 cm.
Zona hambat probiotik yakult konsentrasi 50% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada sumuran pertama mendapatkan diameter zona bening 1,5 cm, untuk sumuran ke dua mendapatkan diameter zona bening sebesar 1,38 cm,  untuk sumuran ke tiga diameter yang dihasilkan 1,38 cm dan untuk sumuran ke empat diameter yang dihasilkan 1,38 cm, dengan rata-rata zona hambat probiotik yakult konsentrasi 50% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus sebesar 1,41 cm.
Zona hambat probiotik yakult konsentrasi 25% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada sumuran pertama mendapatkan diameter zona bening 1,47cm, untuk sumuran ke dua mendapatkan diameter zona bening sebesar 1,03 cm,  untuk sumuran ke tiga diameter yang dihasilkan 1,21 cm dan untuk sumuran ke empat diameter yang dihasilkan 0,74 cm, dengan rata-rata zona hambat probiotik yakult konsentrasi 25% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus sebesar 0,96 cm.
Tabel 4.2. Zona hambat probiotik yogurt pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus.
Yogurt 100%
Yogurt 50%
Yogurt 25%
Sumuran 1 = 0,91 cm
Sumuran 2 = 0,93 cm
Sumuran 3 = 0,88 cm
Sumuran 4 = 0,67 cm
Sumuran 1 = 0,63 cm
Sumuran 2 = 0,94 cm
Sumuran 3 = 0,94 cm
Sumuran 4 = 0,74 cm
Sumuran 1 = 0,94 cm
Sumuran 2 = 0,92 cm
Sumuran 3 = 0,65 cm
Sumuran 4 = 0,71 cm
x̅= 0,84 cm
x̅= 0,81 cm
x̅= 0,81 cm

Dilihat dari data tabel 4.2 di atas menunjukan bahwa Zona hambat probiotik yogurt konsentrasi 100% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada sumuran pertama mendapatkan diameter zona bening 0,91 cm, untuk sumuran ke dua mendapatkan diameter zona bening sebesar 0,93 cm,  untuk sumuran ke tiga diameter yang dihasilkan 0,88 cm dan untuk sumuran ke empat diameter yang dihasilkan 0,67 cm, dengan rata-rata zona hambat probiotik yogurt konsentrasi 100% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus sebesar 0,84 cm.
Zona hambat probiotik yogurt konsentrasi 50% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada sumuran pertama mendapatkan diameter zona bening 0,63 cm, untuk sumuran ke dua mendapatkan diameter zona bening sebesar 0,94 cm,  untuk sumuran ke tiga diameter yang dihasilkan 0,94 cm dan untuk sumuran ke empat diameter yang dihasilkan 0,74 cm, dengan rata-rata zona hambat probiotik yogurt konsentrasi 50% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus sebesar 0,81 cm.
Zona hambat probiotik yogurt konsentrasi 25% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada sumuran pertama mendapatkan diameter zona bening 0,94 cm, untuk sumuran ke dua mendapatkan diameter zona bening sebesar 0,92 cm,  untuk sumuran ke tiga diameter yang dihasilkan 0,65 cm dan untuk sumuran ke empat diameter yang dihasilkan 0,71 cm, dengan rata-rata zona hambat probiotik yogurt konsentrasi 25% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus sebesar 0,81 cm.
Tabel 4.3. Zona hambat probiotik kefir pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus.
Kefir 100%
Kefir 50%
Kefir 25%
Sumuran 1 = 0,67 cm
Sumuran 2 = 0,64 cm
Sumuran 3 =  -
Sumuran 4 =  -
Sumuran 1 = -
Sumuran 2 = -
Sumuran 3 = -
Sumuran 4 = -
Sumuran 1 = -
Sumuran 2 = -
Sumuran 3 = -
Sumuran 4 = -
x̅= 0,32 cm
x̅= -
x̅= -

Dilihat dari data tabel 4.3 di atas menunjukan bahwa Zona hambat probiotik kefir konsentrasi 100% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada sumuran pertama mendapatkan diameter zona bening 0,67 cm, untuk sumuran ke dua mendapatkan diameter zona bening sebesar 0,64 cm,  untuk sumuran ke tiga dan keempat diameter yang dihasilkan tidak ada zona bening (resisten), dengan rata-rata zona hambat probiotik kefir konsentrasi 100% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus sebesar 0,32 cm.
Zona hambat probiotik kefir konsentrasi 50% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada sumuran pertama, kedua, ketiga dan keempat dihasilkan tidak ada zona bening (resisten).
Zona hambat probiotik kefir konsentrasi 25% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada sumuran pertama, kedua, ketiga dan keempat dihasilkan tidak ada zona bening (resisten).

Tabel 4.4. Zona hambat Aquadest pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus.
Aquadest 100%
Sumuran 1 =  -
Sumuran 2 =  -
Sumuran 3 =  -
Sumuran 4 =  -
x̅=  -

Dilihat dari data tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa zona hambat aquadest konsentrasi 100% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada sumuran pertama, kedua, sumuran ketiga dan keempat diameter yang dihasilkan tidak ada zona bening (resisten).
Berdasarkan hasil yang didapat dari ketiga produk minuman probiotik (yakult, yogurt, dan kefir) yang diujikan menunjukkan bahwa yakult dengan konsentrasi 100% memiliki zona hambat paling luas diantara yogurt dan kefir dengan konsentrasi 100%. Hal ini dikarenakan pada produk yakult mengandung bakteri Lactobacillus casei. Lactobacillus casei  memiliki pH hingga 2 sehingga memiliki kemampuan bertahan terhadap kondisi asam. Sementara itu, Staphylococcuc aureus dapat tumbuh pada pH 4,0-9,8 (Khairunnisa & Pato, 2016).



BAB V
KESIMPULAN

Jadi kesimpulan dari hasil penelitian daya anti bakteri yogurt, kefir, dan yakult dapat mempengaruhi bakteri Staphylococcus aureus menunjukkan bahwa:

1.      Pada uji  zona hambat probiotik yakult konsentrasi 100% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus memiliki tingkat daya hambat paling tinggi dengan rata-rata zona hambat sebesar 1,47 cm.
2.      Pada uji zona hambat probiotik yogurt konsentrasi 100% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus memiliki tingkat daya hambat kedua setelah yakult sebesar 0,84 cm.
3.      Sedangkan pada uji  zona hambat probiotik kefir konsentrasi 100% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus memiliki tingkat daya hambat paling kecil dibandingkan denga yogurt dan yakult sebesar 0,32 cm.
4.      Pada uji kontrol negatif menunjukan bahwa Zona hambat aquadest konsentrasi 100% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada sumuran pertama, kedua, sumuran ke tiga dan keempat diameter yang dihasilkan tidak ada zona bening (resisten).


DAFTAR PUSTAKA


Amin dan Leksono. 2001. Efektivitas Bakteri Asam Laktat dalam Menghambat Bakteri. Airlangga. Jogyakarta.
Jay JM, Loessner MJ, Golden GA. 2005. Modern Food Microbiology. 7th ed.Springer. New York.
Khairunnisa, Fitri  dan Usman Pato. 2016. Perbandingan Aktivitas Antibakteri Antara Lactobacillus Casei Subsp. Casei R-68 dan Lactobacillus Casei Komersil Terhadap Staphylococcus aureus FNCC-15 dan Escherichia coli FNCC-19. Jom FAPERTA Vol. 3 No. 2. 1-9
Kosikwoski dalam Sawitri, M.E. 2011. “Kajian Penggunaan Ekstrak Susu Kedelai Terhadap Kualitas Kefir Susu Kambing”. Jurnal Ternak Tropika, Vol. 12, No. 1: 15-21.
Kurman, J. A. J.L.Rasic and M. Kroger. 1992. Encyclopedia of Fermented Fresh Milk Product. Nostrand Reinhold, USA.
Kustiawan, Erfan. Hari Purnomo dan Lilik Eka Radiati. 2010 “Pengaruh Pemanasan Dan Lama Penyimpanan Pasca Fermentasi Terhadap Konsentrasi Laktoferin Susu Kambing Dan Kefir”. Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak, Vol. 5, No. 2: 1-8.
Silalahi, 2000. Penelitian Pembuatan Briket Kayu dari Serbuk Gergajian Kayu. Bogor: Hasil Penelitian DEPERINDAG.
Surono IS. 2004. Probiotik Susu  Fermentasi  dan  Kesehatan.  YAPMMI. Jakarta.
Zakaria, Yusdar. 2009. “Pengaruh Jenis Susu dan Persentase Starter  Yang Berbeda Terhadap Kualitas Kefir”. Agripet, Vol. 9, No. 1: 26-30.

No comments:

Post a Comment