BAB
I
PENDAHULUAN
A. Judul Penelitian:
Pengaruh daya anti
bakteri yogurt, kefir, yakult terhadap bakteri staphylococcus aureus.
B. Latar Belakang:
Dermatosis
vesikobulosa merupakan suatu penyakit kulit dengan gambaran klinis berupa
vesikel atau bula; di mana vesikel adalah suatu lenting kecil dengan diameter
> 0,5 cm dan bula adalah suatu lepuh yang lebih besar dengan diameter >
0,5 cm. Pecahnya vesikel atau bula akan menimbulkan suatu erosi bahkan bisa
sangat luas. Erosi yang luas dapat menjadi rentan terhadap infeksi
sekunder, di mana tidak berhubungan
dengan patogenesisnya namun penanganan erosi kulitnya sama. Kasus tersebut yang
paling berisiko untuk terjadi infeksi sekunder karena erosi yang luas dan
sering tidak ditempatkan dalam ruang isolasi.
Adanya
infeksi akan meningkatkan risiko terjadinya angka kesakitan yang lebih berat
dan risiko kematian yang meningkat karena adanya sepsis. Berdasarkan hasil
kultur aerob penyebab infeksi sekunder penderita dermatosis vesikobulosa
didapatkan 5 jenis kuman, yaitu Staphylococcus aureus, Streptococcus viridans,
Streptococcus koagulase negatif, Enterobacter aerogenes, dan Escherechia coli.
Di antara 5 kuman tersebut paling banyak dalah Staphylococcus aureus sebanyak
42,1%. Staphylococcus aureus merupakan
bakteri kelompok Gram positif yanng memilliki bentuk coccus atau berbentuk
bulat. Staphylococcus aureus bersifat
hemolitik ketika ditanam dalam darah.
Terdapat
sebuah penelitian yang dilakukan oleh Purwajatiningsih (2013) tentang daya
hambat bakteri asam laktat Lactobacillus casei Strain Shirota dalam produk
Yakult terhadap bakteri Stapylococcus aureus. Berdasarkan penelitian tersebut,
Lactobacillus casei Strain Shirota menghasilkan zat antimikroba yang memiliki
kemampuan daya hambat untuk menghambat bakteri pathogen dengan zona hambat
12,56 mm2 terhadao Staphylococcus aureus. Sementara itu, Khairunnisa (2016)
juga melakukan penelitian tentang perbandingan aktivitas antibakteri antara
Lactobacillus casei dalam produk minuman berprobiotik terhadap bakteri
Stapylococcus aureus. Berdasarkan penelitiannya, terdapat hasil yang signifikan
dari penggunaan minuman berprobiotik tersebut terhadap bakteri Stapylococcus
Minuman
berprobiotik saat ini sudah sangat mudah ditemui di pasaran. Banyak produk
pabrik dengan olahan bakteri asam laktat diantaranya yaitu Yakult, Yogurt dan
Kefir.
C. Rumusan Masalah:
Bagaiman
daya anti bakteri yogurt, kefir, dan yakult mempengaruhi bakteri Staphylococcus aureus?
D. Tujuan Penelitian:
Mengetahui
bagaimana daya anti bakteri yogurt, kefir, dan yakult dapat mempengaruhi
bakteri Staphylococcus aureus?
E. Manfaat Penelitian:
1.
Sebagai referensi bagi penelitian
selanjutnya.
2.
Memberikan kontribusi bagi masyarakat.
BAB
II
Tinjauan
Pustaka
Bakteri asam laktat adalah kelompok bakteri yang mampu
mengubah karbohidrat (glukosa) menjadi asam laktat. Efek bakterisidal dari asam
laktat berkaitan dengan penurunan pH lingkungan menjadi 3 sampai 4,5 sehingga
pertumbuhan bakteri lain termasuk bakteri pembusuk akan terhambat Pada umunya
mikroorganisme dapat tumbuh pada kisaran pH 6-8 (Amin dan Leksono, 2001).
Pemanfaatan BAL oleh
manusia telah dilakukan sejak lama, yaitu untuk proses fermentasi makanan. BAL merupakan kelompok besar bakteri
menguntungkan yang memiliki sifat relatif sama. Saat ini BAL digunakan
untuk pengawetan dan memperbaiki tekstur dan cita rasa bahan pangan BAL mampu
memproduksi asam laktat sebagai produik akhir perombakan karbohidrat, hydrogen
peroksida, dan bakteriosin. Dengan terbentuknya zat antibakteri dan asam maka
pertumbuhan bakteri pathogen seperti Salmonella dan E. coli akan dihambat (Silalahi, 2000).
Efektivitas BAL dalam menghambat bakteri pembusuk dipengaruhi
oleh kepadatan BAL, strain BAL, dan komposisi media. Selain itu, produki
substansi penghambat dari BAL dipengaruhi oleh media pertumbuhan, pH, dan
temperature lingkungan.
Jenis susu fermentasi dibedakan berdasarkan metode fermentasi
atau prosesnya, yang terkait dengan mikroba yang terlibat didalamnya. Tiap
jenis susu fermentasi melibatkan mikroba spesifik, namun demikian terdapat
kesamaan yang kuat dalam teknologi produksi yang digunakannya. Fermentasi susu
secara umum melibatkan metabolisme laktosa, disakarida dalam susu menjadi asam
laktat, oleh bakteri asam laktat terutama Lactococci
dan Lactobacilli. Dalam
memproduksi susu fermentasi yang baik perlu diperhatikan hal-hal sebagai
berikut: susu segar bermutu tinggi, rendah kandungan cemaran bakterinya,
dipasteurisasi dengan tepat, menggunakan kultur bibit (starter) yang aktif dan
tepat, pendinginan yang cepat dan sanitasi yang baik. Seleksi kultur starter
dan kondisi fermentasi memegang peranan penting dalam proses susu fermentasi
(Surono, 2004).
Kefir merupakan produk olahan fermentasi dari susu. Kefir
dibuat dengan menambahkan butiran kefir atau grains kefir ke dalam susu. Kefir
merupakan produk susu fermentasi dapat dibuat dari bahan baku susu sapi, susu
kambing atau susu domba dengan menambahkan bibit kefir (kefir grains) yang terdiri dari bakteri asam laktat dan khamir
(Kosikwoski, 2001). Kefir adalah produk susu fermentasi yang mempunyai rasa
yang spesifik sebagai hasil fermentasi bakteri asam laktat dan khamir (ragi)
yang hidup bersama-sama dan saling menguntungkan.
Kefir sangat bermanfaat bagi tubuh selain memperoleh nilai
nutrisi yang baik, kefir juga memberikan manfaat kesehatan yaitu bermanfaat
bagi pencernaan karena dapat menghambat pertumbuhan bakteri phatogen (Zakaria,
2009). Pendapat serupa tentang kefir juga diungkapkan oleh Kustiawan (2010)
bahwa Kefir merupakan susu fermentasi menggunakan kefir grain, yang terdiri atas bakteri dan khamir. Kefir adalah
salah satu produk makanan fungsional, yaitu makanan yang berfungsi sebagai
sumber nutrisi dan juga berkhasiat terapeutik (menguntungkan bagi tubuh) karena
mengandung komponen bioaktif, sehingga berpotensi menjaga kesehatan tubuh.
Yakult adalah
minuman probiotik mirip yogurt yang dibuat dari
fermentasi skimmed milk dan gula dengan bakteri Lactobacillus casei. Karena L. casei Shirota dapat ditemui
dalam sistem pencernaan, Yakult dipromosikan sebagai minuman yang baik untuk
kesehatan. Minuman yang mengandung bakteri yang bermanfaat untuk menekan
pertumbuhan bakteri jahat. Yakult ditemukan oleh doktor Minoru
Shirota pada 1930. Pada1935, ia mendirikan Yakult Honsha Co.,
Ltd. (Kabushiki-gaisha Yakuruto
Honsha?) untuk memasarkan minuman ini.
Sejak saat itu, Yakult telah memperkenalkan berbagai minuman yang mengandung
bakteri Bifidobacterium breve,
dan telah menggunakan lactobacilli untuk mengembangkan kosmetika. Yakult Honsha
juga memainkan peran penting dalam penelitian
obat kemotrapi irinotecan.
Yakult merupakan produk susu
fermentasi dengan menggunakan starter tunggal yaitu Dornic atau 0,5% asam Lactobacillus casei. Kecepatan
pertumbuhan bakteri ini berkisar 50 laktat setelah 48 jam. Lactobacillus casei
berbentuk batang tunggal dan termasuk golongan bakteri heterofermentatif,
fakultatif, mesofilik, dan berukuran lebih kecil dari pada Lactobacillus bulgaricus, Lactobacillus acidophillus, dan Lactobacillus helveticus. Lactobacillus casei akan merubah ribosa
menjadi asam laktat dan asam asetat, perubahan ribosa diinduksi oleh
faseketolase (Kurman, 1992).
Yogurt adalah koagulum susu yang dihasilkan oleh fermentasi
asam laktat yang merupakan aktivitas dari Lactobacillus
bulgaricus dan Streptococcus thermophilus
yang juga disebut starter yogurt
dengan perbandingan 1:1 (Jay et al., 2005).
Bakteri kokus tumbuh lebih cepat daripada bakteri yang berbentuk batang (rod)
sekaligus merupakan produsen asam tertinggi, sedangkan bakteri yang berbentuk
batang menghasilkan flavor dan aroma. Pertumbuhan asosiasi dari dua organisme
tersebut menghasilkan produksi asam laktat yang lebih banyak dibandingkan jika
diproduksi oleh masing-masing organisme secara tunggal.
Jay et al. (2005)
melaporkan bahwa yogurt yang baru diproduksi mengandung sekitar 109
organisme/g, akan tetapi selama penyimpanan, jumlah tersebut akan menurun
menjadi sekitar 106/g, khususnya ketika disimpan pada suhu 5oC
selama 60 hari. Adapun kemampuan starter yogurt ini dalam mengkolonisasi usus
masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan, saat ini terdapat konsensus
diantara para ilmuwan bahwa kultur yogurt (Lactobacillus
bulgaricus dan Streptococcus
thermophilus) tidak dapat menempel pada permukaan mukosa usus walaupun
kadang-kadang terjadi hasil studi yang berbeda dikarenakan oleh berbedanya
variasi galur (strain) starter yang digunakan, perbedaan dalam desain
eksperimen, atau hasil dari studi pada hewan diterapkan secara salah kepada
manusia.
Staphylococcus merupakan suatu kuman berbentuk sferis yang tumbuh
bergerombol seperti buah anggur dengan ukuran diameter sekitar 0,5-1,5µm. Staphylococcus aureus memiliki warna
keemasan ketika dibiakkan pada media solid, sesuai dengan namanya “aureus” yang
berasal dari bahasa Latin. Merupakan
salah satu kuman flora normal yang ditemukan pada kulit dan hidung manusia.
Sama seperti species Staphylococcus
yang lain, Staphylococcus aureus bersifat
non motil, non spora, anaerob fakultatif yang tumbuh melalui respirasi aerob
atau fermentasi, dan termasuk bakteri kokus gram positif. Kuman ini juga dapat
menghemolisis agar darah.
![]() |
Gambar 1.
Mikroskopis Staphylococcus aureus
Staphylococcus aureus mampu
menghasilkan enzim katalase yang berperan dalam proses pengubahan hidrogen
peroksida (H2O2) menjadi hidrogen (H2) dan
oksigen (O2), karena hal tersebut Staphylococcus aureus dikatakan bersifat katalase positif dimana
hal ini dapat membedakannya dari genus Streptococcus. Staphylococcus aureus juga menunjukkan kemampuan untuk menghasilkan
enzim koagulase yang dapat membedakannya dari Staphylococcus jenis lainnya,
seperti Staphylococcus epidermidis. Staphylococcus aureus memiliki kemampuan
untuk memfermentasikan manitol menjadi asam, hal ini dapat
![]() |
dibuktikan bila Staphylococcus aureus dibiakkan dalam agar Manitol, dimana terjadi perubahan pH dan juga perubahan warna dari merah ke kuning.
Gambar
2. Staphylococcus
aureus pada agar Manitol
Staphylococcus aureus merupakan
salah satu kuman patogen yang berbahaya. Infeksi oleh Staphylococcus aureus dapat menyebar melalui kontak dengan nanah
dari luka yang terinfeksi Staphylococcus
aureus, kontak dengan kulit orang yang terinfeksi Staphylococcus aureus, kontak dengan karier Staphylococcus aureus, serta kontak dengan barang-barang, seperti
handuk, seprei, pakaian, dan alat pencukur jenggot orang yang terinfeksi Staphylococcus aureus. Staphylococcus aureus dapat menimbulkan
penyakit melalui kemampuannya tersebar luas dalam jaringan dan melalui
pembentukan berbagai zat ekstraseluler.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
1.
Jenis Penelitian
Jenis
penelitian adalah eksperimen laboratorik dengan metode dilusi (sumuran).
perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak empat kali pada tiga variabel bebas
(yogurt, yakult, kefir) sehingga digunakan 60 unit percobaan.
2.
Tempat dan waktu penelitian
Penelitian
ini dilakukan di laboratorium mikrobiologi fakultas kedokteran UNISSULA. Pada
bulan Oktober-November 2018.
3.
Sampel
Sampel
pada penelitian ini adalah susu fermentasi komersil yaitu yogurt, yakult, dan
kefir dengan dipilih jenis sampel yang plain (original). Bakteri uji yang
digunakan adalah isolat Staphylococcus
aureus.
4.
Variabel
Variabel
penelitian terdiri dari tiga jenis, yaitu variabel bebas, variabel terikat dan
variaabel kontrol. Variabel bebas pada penelitian ini adalah susu fermentasi
komersil terdiri dari yogurt, yakult, dan kefir dengan empat tingkat
konsentrasi, yaitu konsentrasi 0%, 25%, 50%, dan 100%. Semua perlakuan diulang
sebanyak empat kali. Variabel terikat pada penelitian ini adalah daya
antibakteri yang dilihat dari diameter zona hambat (zona bening). Variabel
kontrol pada penelitian ini adalah aquades
Pengulangan dilakukan
sebanyak empat kali dari hasil perhitungan yang diperoleh dengan menggunakan
rumus Federer yaitu:
(n-1) (t-1) ≥ 15
(n-1)
(3-1) (4-1) ≥ 15
(n-1) (2) (3) ≥ 15
(n-1) (6) ≥ 1 5
(6n-6) ≥ 1 5
6n ≥ 21
n = 4
untuk
membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel diamati/diteliti,
variabel-variabel tersebut perlu dibatasi atau definisi operasional. Definisi
operasional dari masing-masing variabel yang akan diteliti adalah sebagai
berikut:
|
Variabel
|
Definisi
|
Cara Ukur
|
Alat Ukur
|
Skala
|
|
Konsentrasi susu fermentasi komersil
|
Pemberian setiap jenis sampel (yogurt,
yakult, dan kefir) dengan konsentrasi 0%, 25%, 50% dan 100%
|
|
|
ordinal
|
|
Zona hambatan
|
Diameter zona bening yang muncul
disekitar lubang yang berisi larutan uji pada media MSA
|
Diukur dalam millimeter untuk
mengetahui daya antibakteri yogurt, yakult dan kefir
|
Penggaris atau jangka sorong
|
Numerik
|
5.
Alat, bahan dan media
·
Alat
a.
Cawan petri
b.
tabung reaksi
c.
rak tabung reaksi
d.
cakram
e.
spatula incubator
f.
erlenmenyer
g.
pipet tetes
h.
gelas ukur
i.
jarum ose
j.
centrifuge
k.
Bunsen
l.
autoclave
m.
spirtus.
n.
masker
o.
sarung tangan
p.
tissue
q.
kertas label
r.
aluminium foil.
Bahan
uji yang digunakan yogurt, yakut, kefir, aquades. Bahan lain yang diperlukan
adalah media MSA dengan isolat bakteri Staphylococcus
aureus dari laboratorium mikrobiologi fakultas kedokteran UNNISULA.
6.
Prosedur penelitian
a.
Sterilisasi
Semua alat yang
akan digunakan dalam penelitian ini sebelumnya disterilkan dalam autoclave
menggunakan suhu 121oC selama 15 menit
b.
Pembuatan suspensi bakteri
Dalam hal ini
telah disediakan isolat Staphylococcus
aureus dari laboratorium
c.
Prosedur pembuatan MSA
Dalam hal ini
MSA telah disediakan dari laboratorium
d.
Pembuatan lubang sumur
·
Siapkan 20 cawan petri dan cetakan sumur
dengan diameter ± 6mm dengan tinggi 1 cm, yang sebelumnya telah disterilkan.
Setiap cawan petri ditandai menggunakan spidol di bagian bawah cawan petri
menjadi empat bagian.
·
Dituangkan 100 µl suspensi Staphylococcus aureus dalam MRSA yang
telah dibuat sebelumnya ke dalam media MSA, kemudian digoyangkan supaya
homogen. Kemudian tuang MSA tersebut sebanyak 25 ml ke masing-masing cawan
petri yang sudah diletakkan sedotan sebelumnya dan dibiarkan hingga agar MSA
mengeras.
·
Tuangkan sampel (yogurt, yakult, kefir)
sebanyak 50 µl dalam masing-masing sumur dan inkubasi selama 24 jam dengan suhu
37˚ C.
·
Tiap cawan petri berisi 4 jenis
konsentrasi dan 1 cawan petri sebagai kontrol negatif
·
Kemudiaan sediaan diinkubasi pada suhu
37˚C selama 24 jam.
·
Keesokan harinya dilakukan pengukuran
diameter zona hambat menggunakan jangka sorong.
7.
Alur Penelitian
![]() |
||||||||||||
![]() |
||||||||||||
![]() |
||||||||||||
![]() |
||||||||||||
![]() |
||||||||||||
![]() |
||||||||||||
![]() |
||||||||||||
- Analisis Data
Data
yang diperoleh adalah data primer, yang didapatkan dari hasil pengamatan dan
pengukuran diameter zona bening di sekitar kertas cakram. Data dianalisis dan
diuraikan secara deskriptif.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil dan pembahasan daya anti
bakteri yogurt, kefir, dan yakult dapat mempengaruhi bakteri Staphylococcus aureus
a.
Yakult
![]() |
![]() |
||||
![]() |
|||||
|
|
|
Gambar 4.1. Zona
bening probiotik yakult pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus.
b.
Yogurt


|
|
|
Gambar 4.2. Zona
bening probiotik yogurt pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus.
c.
Kefir


|
|
|
Gambar 4.3. Zona
bening probiotik kefir pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus.
d.
Aquadest
![]() |
|||
|
|||
Gambar 4.4. Zona
bening aquadest pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus.
4.2 Mengukur Zona hambat dengan menghitung diameter :
Tabel
4.1.
Zona hambat probiotik yakult pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus.
|
Yakult
100%
|
Yakult
50%
|
Yakult
25%
|
|
Sumuran 1 = 1,68 cm
Sumuran 2 = 1,56 cm
Sumuran 3 = 1,43 cm
Sumuran 4 = 1,22 cm
|
Sumuran 1 = 1,5 cm
Sumuran 2 = 1,38 cm
Sumuran 3 = 1,38 cm
Sumuran 4 = 1,38 cm
|
Sumuran 1 = 1,47 cm
Sumuran 2 = 1,03 cm
Sumuran 3 = 1,21 cm
Sumuran 4 = 0,74 cm
|
|
x̅= 1,47 cm
|
x̅= 1,41 cm
|
x̅= 0,96 cm
|
Dilihat dari data tabel 4.1 di atas
menunjukan bahwa Zona hambat probiotik yakult konsentrasi 100% pada media MSA
terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada
sumuran pertama mendapatkan diameter zona bening 1,68 cm, untuk sumuran ke dua
mendapatkan diameter zona bening sebesar 1,56 cm, untuk sumuran ke tiga diameter yang dihasilkan
1,43 cm dan untuk sumuran ke empat diameter yang dihasilkan 1,22 cm, dengan
rata-rata zona hambat probiotik yakult konsentrasi 100% pada media MSA terhadap
bakteri Staphylococcuc aureus sebesar
1,47 cm.
Zona hambat probiotik yakult
konsentrasi 50% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada sumuran pertama mendapatkan diameter
zona bening 1,5 cm, untuk sumuran ke dua mendapatkan diameter zona bening
sebesar 1,38 cm, untuk sumuran ke tiga
diameter yang dihasilkan 1,38 cm dan untuk sumuran ke empat diameter yang
dihasilkan 1,38 cm, dengan rata-rata zona hambat probiotik yakult konsentrasi
50% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc
aureus sebesar 1,41 cm.
Zona hambat probiotik yakult
konsentrasi 25% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada sumuran pertama mendapatkan diameter
zona bening 1,47cm, untuk sumuran ke dua mendapatkan diameter zona bening
sebesar 1,03 cm, untuk sumuran ke tiga
diameter yang dihasilkan 1,21 cm dan untuk sumuran ke empat diameter yang
dihasilkan 0,74 cm, dengan rata-rata zona hambat probiotik yakult konsentrasi
25% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc
aureus sebesar 0,96 cm.
Tabel
4.2.
Zona hambat probiotik yogurt pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus.
|
Yogurt
100%
|
Yogurt
50%
|
Yogurt
25%
|
|
Sumuran 1 = 0,91 cm
Sumuran 2 = 0,93 cm
Sumuran 3 = 0,88 cm
Sumuran 4 = 0,67 cm
|
Sumuran 1 = 0,63 cm
Sumuran 2 = 0,94 cm
Sumuran 3 = 0,94 cm
Sumuran 4 = 0,74 cm
|
Sumuran 1 = 0,94 cm
Sumuran 2 = 0,92 cm
Sumuran 3 = 0,65 cm
Sumuran 4 = 0,71 cm
|
|
x̅= 0,84 cm
|
x̅= 0,81 cm
|
x̅= 0,81 cm
|
Dilihat dari data tabel 4.2 di atas
menunjukan bahwa Zona hambat probiotik yogurt konsentrasi 100% pada media MSA
terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada
sumuran pertama mendapatkan diameter zona bening 0,91 cm, untuk sumuran ke dua
mendapatkan diameter zona bening sebesar 0,93 cm, untuk sumuran ke tiga diameter yang
dihasilkan 0,88 cm dan untuk sumuran ke empat diameter yang dihasilkan 0,67 cm,
dengan rata-rata zona hambat probiotik yogurt konsentrasi 100% pada media MSA
terhadap bakteri Staphylococcuc aureus
sebesar 0,84 cm.
Zona hambat probiotik yogurt
konsentrasi 50% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada sumuran pertama mendapatkan diameter
zona bening 0,63 cm, untuk sumuran ke dua mendapatkan diameter zona bening
sebesar 0,94 cm, untuk sumuran ke tiga
diameter yang dihasilkan 0,94 cm dan untuk sumuran ke empat diameter yang
dihasilkan 0,74 cm, dengan rata-rata zona hambat probiotik yogurt konsentrasi
50% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc
aureus sebesar 0,81 cm.
Zona hambat probiotik yogurt
konsentrasi 25% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada sumuran pertama mendapatkan diameter
zona bening 0,94 cm, untuk sumuran ke dua mendapatkan diameter zona bening
sebesar 0,92 cm, untuk sumuran ke tiga
diameter yang dihasilkan 0,65 cm dan untuk sumuran ke empat diameter yang
dihasilkan 0,71 cm, dengan rata-rata zona hambat probiotik yogurt konsentrasi
25% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc
aureus sebesar 0,81 cm.
Tabel
4.3.
Zona hambat probiotik kefir pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus.
|
Kefir
100%
|
Kefir
50%
|
Kefir
25%
|
|
Sumuran 1 = 0,67 cm
Sumuran 2 = 0,64 cm
Sumuran 3 = -
Sumuran 4 = -
|
Sumuran 1 = -
Sumuran 2 = -
Sumuran 3 = -
Sumuran 4 = -
|
Sumuran 1 = -
Sumuran 2 = -
Sumuran 3 = -
Sumuran 4 = -
|
|
x̅= 0,32 cm
|
x̅= -
|
x̅= -
|
Dilihat dari data tabel 4.3 di atas
menunjukan bahwa Zona hambat probiotik kefir konsentrasi 100% pada media MSA
terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada
sumuran pertama mendapatkan diameter zona bening 0,67 cm, untuk sumuran ke dua
mendapatkan diameter zona bening sebesar 0,64 cm, untuk sumuran ke tiga dan keempat diameter
yang dihasilkan tidak ada zona bening (resisten), dengan rata-rata zona hambat
probiotik kefir konsentrasi 100% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus sebesar 0,32 cm.
Zona hambat probiotik kefir
konsentrasi 50% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada sumuran pertama, kedua, ketiga dan
keempat dihasilkan tidak ada zona bening (resisten).
Zona hambat probiotik kefir
konsentrasi 25% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada sumuran pertama, kedua, ketiga dan
keempat dihasilkan tidak ada zona bening (resisten).
Tabel
4.4.
Zona hambat Aquadest pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus.
|
Aquadest
100%
|
|
Sumuran 1 =
-
Sumuran 2 = -
Sumuran 3 = -
Sumuran 4 =
-
|
|
x̅= -
|
Dilihat dari data tabel 4.4 di atas
menunjukkan bahwa zona hambat aquadest konsentrasi 100% pada media MSA terhadap
bakteri Staphylococcuc aureus pada
sumuran pertama, kedua, sumuran ketiga dan keempat diameter yang dihasilkan
tidak ada zona bening (resisten).
Berdasarkan hasil yang didapat dari
ketiga produk minuman probiotik (yakult, yogurt, dan kefir) yang diujikan
menunjukkan bahwa yakult dengan konsentrasi 100% memiliki zona hambat paling
luas diantara yogurt dan kefir dengan konsentrasi 100%. Hal ini dikarenakan
pada produk yakult mengandung bakteri Lactobacillus
casei. Lactobacillus casei memiliki pH hingga 2 sehingga memiliki
kemampuan bertahan terhadap kondisi asam. Sementara itu, Staphylococcuc aureus dapat tumbuh pada pH 4,0-9,8 (Khairunnisa
& Pato, 2016).
BAB V
KESIMPULAN
Jadi
kesimpulan dari hasil penelitian daya anti bakteri yogurt, kefir, dan yakult
dapat mempengaruhi bakteri Staphylococcus
aureus menunjukkan bahwa:
1.
Pada uji
zona hambat probiotik yakult konsentrasi 100% pada media MSA terhadap
bakteri Staphylococcuc aureus memiliki
tingkat daya hambat paling tinggi dengan rata-rata zona hambat sebesar 1,47 cm.
2.
Pada uji zona hambat probiotik yogurt
konsentrasi 100% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus memiliki tingkat daya hambat kedua setelah
yakult sebesar 0,84 cm.
3.
Sedangkan pada uji zona hambat probiotik kefir konsentrasi 100%
pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc
aureus memiliki tingkat daya hambat paling kecil dibandingkan denga yogurt
dan yakult sebesar 0,32 cm.
4.
Pada uji kontrol negatif menunjukan
bahwa Zona hambat aquadest konsentrasi 100% pada media MSA terhadap bakteri Staphylococcuc aureus pada sumuran
pertama, kedua, sumuran ke tiga dan keempat diameter yang dihasilkan tidak ada
zona bening (resisten).
DAFTAR
PUSTAKA
Amin dan Leksono. 2001. Efektivitas Bakteri Asam Laktat dalam
Menghambat Bakteri. Airlangga. Jogyakarta.
Jay JM, Loessner MJ, Golden GA. 2005. Modern
Food Microbiology. 7th
ed.Springer. New York.
Khairunnisa, Fitri dan Usman Pato. 2016. Perbandingan Aktivitas
Antibakteri Antara Lactobacillus Casei
Subsp. Casei R-68 dan Lactobacillus
Casei Komersil Terhadap Staphylococcus
aureus FNCC-15 dan Escherichia coli
FNCC-19. Jom FAPERTA Vol. 3 No. 2.
1-9
Kosikwoski dalam Sawitri, M.E. 2011.
“Kajian Penggunaan Ekstrak Susu Kedelai Terhadap Kualitas Kefir Susu Kambing”. Jurnal Ternak Tropika, Vol. 12, No. 1:
15-21.
Kurman, J. A. J.L.Rasic
and M. Kroger. 1992. Encyclopedia of Fermented Fresh Milk Product. Nostrand
Reinhold, USA.
Kustiawan, Erfan. Hari Purnomo dan Lilik
Eka Radiati. 2010 “Pengaruh Pemanasan Dan Lama Penyimpanan Pasca Fermentasi
Terhadap Konsentrasi Laktoferin Susu Kambing Dan Kefir”. Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak, Vol. 5, No. 2: 1-8.
Silalahi, 2000. Penelitian Pembuatan
Briket Kayu dari Serbuk Gergajian Kayu. Bogor: Hasil Penelitian DEPERINDAG.
Surono
IS. 2004. Probiotik Susu Fermentasi dan
Kesehatan. YAPMMI. Jakarta.
Zakaria, Yusdar. 2009. “Pengaruh Jenis
Susu dan Persentase Starter Yang Berbeda Terhadap Kualitas Kefir”. Agripet, Vol. 9, No. 1: 26-30.














No comments:
Post a Comment