Tuesday, 16 April 2019

METABOLISME KULIT



BAB I

A.  Latar Belakang

Pengeluaran zat sisa tersebut diperlukan sistem pengeluaran yang disebut sistem ekskresi. Sistem ekskresi merupakan pengeluaran limbah hasil metabolisme pada organisme hidup. Zat sisa metabolisme yang harus dikeluarkan antara lain karbondioksida (CO2), urea,  air (H2O), amonia (NH3), kelebihan vitamin, dan zat warna empedu. Organ pengeluaran zat sisa pada manusia berupa ginjal, kulit, paru-paru dan hati.
Setiap organ-organ pengatur metabolisme untuk sistem ekskresi memiliki suatu faktor pengaruh. Seperti pada kulit, pembentukan dan pengeluaran keringat dipengaruhi oleh faktor hormon ADH, cuaca, dan lingkungan disekitar. Bahkan organ ekskresi itu pun memiliki beberapa gangguan atau penyakit. Apabila organ-organ metabolisme itu tidak berfungsi dengan baik maka akan mempengaruhi sistem kerja metabolisme pada tubuh kita.
Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat sisa metabolisme tubuh, seperti CO2, H2O, NH3, zat warna empedu dan asam urat. Beberapa istilah yang erat kaitannya dengan ekskresi adalah sebagai berikut.
1.    Defekasi: proses pengeluaran sisa pencernaan makanan yang disebut feses. Zat yang dikeluarkan belum pernah mengalami metabolisme di dalam jaringan. Zat yang dikeluarkan meliputi zat yang tidak diserap usus sel epitel, usus yang rusak dan mikroba usus.
2.    Ekskresi: pengeluaran zat sampah sisa metabolisme yang tidak berguna lagi bagi tubuh.
3.    Sekresi: yaitu pengeluaran getah oleh kelenjar pencernaan ke dalam saluran pencernaan. Getah yang dikeluarkan masih berguna bagi tubuh dan umumnya mengandun genzim.
4.    Eliminasi: yaitu proses pengeluaran zat dari rongga tubuh, baik dari rongga yang kecil (saluran air mata) maupun dari rongga yang besar (usus).

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah definisi dari kulit?
2.      Apa saja struktur dari kulit?
3.      Apa saja fungsi dari kulit ?
4.      Bagaimana cara proses pembentukan kringat?

C.  Tujuan

1.      Mengetahui definisi dari kulit.
2.      Mengetahui apa saja struktur dari kulit.
3.      Mengetahui apa saja fungsi dari kulit.
4.      Mengetahui bagaimana cara proses pembentukan kringat.




















BAB II

PEMBAHASAN

A.  Definisi Kulit

Kulit merupakan organ tubuh yang terletak paling luar dari tubuh manusia. Luas kulit orang dewasa adalah 1,7 m2 dengan berat sekitar 10% berat badan. Kulit merupakan organ tubuh yang paling kompleks untuk melindungi manusia dari pengaruh lingkungan.



 






          Kulit atau kutis adalah pelindung tubuh yang paling luar yang tersusun atas beberapa lapisan jaringan. Kulit memiliki banyak fungsi seperti menerima rangsangan dari luar, melindungi diri dari infeksi dan luka, mencegah kekeringan, membantu pengaturan suhu tubuh, mengeluarkan keringat, menyimpan lemak, dan membuat vitamin D. Di dalam kulit terdapat banyak struktur yang masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Keseluruhan kulit (semua struktur dan lapisan jaringan) disebut sistem intergumen (Stockley, 2005).



B.       Description: D:\data hafiz\S2 UNNES HAFIZ\MATAKULIAH S2 UNNES P.BIO\SMESTER1 S2\kapita slekta hewan smst1\kulit\lapisan-kulit.jpgStruktur Kulit











Kulit terdiri dari tiga lapisan jaringan yang mempunyai fungsi dan karakteristik berbeda. Ketiga lapisan tersebut yaitu: lapisan epidermis, lapisan dermis, dan lapisan subkutan.

1.      Lapisan epidermis
    
Lapisan ini merupakan lapisan paling tipis dan terluar dari kulit. Sangat penting dalam kosmetika karena lapisan ini memberikan tekstur, kelembaban serta warna kulit. Sel penyusun utama lapisan epidermis adalah keratinosit. Keratinosit diproduksi oleh lapisan sel basal. Apabila keratinosit matang akan bergerak ke lapisan di atasnya yang disebut dengan proses keratinisasi. Lapisan epidermis dibagi menjadi empat lapisan yaitu:


Description: D:\data hafiz\S2 UNNES HAFIZ\MATAKULIAH S2 UNNES P.BIO\SMESTER1 S2\kapita slekta hewan smst1\kulit\Bagian Kulit.png
 











·         Lapisan sel basal (stratum basal)
Merupakan lapisan paling bawah dari epidermis. Bentuk selnya adalah kuboid. Lapisan sel basal berfungsi melindungi epidermis dengan terus menerus memperbarui selnya. Lapisan ini mengandung banyak keratinosit. Selain itu, juga terdapat sel melanosit untuk mensintesis melanin dan sel merkel untuk sensasi.
·         Lapisan sel prickle (stratum spinosum)
Merupakan lapisan paling bawah kedua setelah lapisan sel basal. Sel berbentuk polihedral dengan inti bulat merupakan hasil pembelahan dari sel basal yang bergerak ke atas dan saling dihubungkan dengan desmosom.
·         Lapisan sel granuler (stratum granulosum)
Merupakan lapisan dengan butiran / granula keratohialin di dalam sel. Pada lapisan ini, selnya berbentuk datar dan tidak ada intinya. Granula keratohialin mengandung profilagrin dan akan berubah menjadi filagrin dalam dua sampai tiga hari. Filagrin akan terdegradasi menjadi molekul yang berkontribusi terhadap hidrasi pada stratum korneum dan membantu penyerapan radiasi sinar ultraviolet.
·         Lapisan sel tanduk (stratum korneum)
Merupakan lapisan paling superfisial dari epidermis. Pada lapisan ini, keratinosit yang sudah matang akan mengalami proses keratinisasi. Lapisan ini memberikan perlindungan mekanik pada kulit dan sebagai barier untuk mencegah kehilangan air pada kulit atau untuk mencegah terjadi transepidermal water loss (TEWL).

2.      Lapisan dermis

Merupakan lapisan yang terletak di antara lapisan epidermis dan subkutan. Lapisan ini lebih tebal daripada lapisan epidermis. Ketebalan lapisan epidermis bervariasi tergantung usia. Semakin tua, ketebalan dan kelembaban kulit akan menurun. Saraf, pembuluh darah, dan kelenjar keringat ada pada lapisan ini. Sel penyusun utama lapisan dermis adalah fibroblas yang mensintesis kolagen, elastin dan glikosaminoglikan. Selain itu, terdapat sel dendrosit, sel mast, makrofag, dan limfosit.





Description: D:\data hafiz\S2 UNNES HAFIZ\MATAKULIAH S2 UNNES P.BIO\SMESTER1 S2\kapita slekta hewan smst1\kulit\Lapisan Dermis.jpg
 







Zona membran basalis yang membentuk perbatasan antara epidermis dan dermis disebut dermal-epidermal junction (DEJ). Lapisan ini berfungsi untuk melekatktan lapisan epidermis dan dermis, mempertahankan terhadap kerusakan dari luar, serta mempertahankan integritas kulit. dalam kulit dermis terdapat kelenjar keringat, kelenjar minyak, pembuluh darah,  ujung- ujung saraf dan kantong rambut. Ujung saraf terdiri atas ujung saraf peraba  untuk  mengenali rabaan, ujung saraf peras untuk mengenali tekanan dan ujung saraf suhu untuk mengenali suhu.
Kulit jangat (dermis) menjadi tempat ujung saraf perasa, tempat keberadaan kandung rambut, kelenjar keringat, kelenjar minyak, pembuluh darah, getah bening, dan otot penegak rambut. Sel umbi rambut yang berada di dasar kandung rambut, terus-menerus membelah dalam membentuk batang rambut. Kelenjar minyak yang menempel di saluran kandung rambut, menghasilkan minyak yang mencapai permukaan kulit melalui muara kandung rambut. Kulit jangat 95 % membentuk ketebalan kulit. Ketebalan rata-rata kulit jangat diperkirakan antara 1 - 2 mm dan yang paling tipis terdapat di kelopak mata serta yang paling tebal terdapat di telapak tangan dan telapak kaki. Susunan dasar kulitnya dibentuk oleh serat-serat, matriks interfibrilar seperti selai dan sel-sel. (Schwartz, 2000).
3.      Lapisan subkutan / hipodermis

            Lapisan ini terletak di bawah lapisan dermis. Terdiri dari jaringan ikat longgar dan lemak. Sel utama lapisan subkutan adalah adiposit, merupakan sel mesenkimal khusus yang menjadi tempat penyimpanan lemak, sangat penting sebagai sumber energi bagi tubuh. Lapisan ini banyak mengandung lemak. Lemak berfungsi sebagai cadangan makanan, pelindung tubuh terhadap benturan, dan menahan panas tubuh. Lapisan subkutan merupakan lapisan lemak (jaringan adiposa) di bawah dermis yang merupakan sebagai tempat penyimpanan lemak. Serat-serat elastis di dalamnya menghubungkan dermis dengan organ-organ di bawahnya, seperti misalnya otot. Lapisan ini berfungsi sebagai lapisan insulasi. Kelenjar minyak terletak pada bagian atas kulit jangat berdekatan dengan kandung rambut terdiri dari gelembung-gelembung kecil yang bermuara ke dalam kandung rambut (folikel). Folikel rambut mengeluarkan lemak yang meminyaki kulit dan menjaga kelunakan rambut. Kelenjar palit membentuk sebum atau urap kulit. Dan terkecuali pada telapak tangan dan telapak kaki, kelenjar palit terdapat di semua bagian tubuh terutama pada bagian muka (Stockley, 2005).
Selain itu, pada kulit juga terdapat apendiks kulit. Yang termasuk di dalam apendiks kulit, yaitu: kuku, rambut, kelenjar sebasea, kelenjar ekrin, dan kelenjar apokrin.

C.      Fungsi Kulit


Fungsi kulit antara lain sebagai berikut:

    1.     Mengeluarkan keringat
Kulit juga mencegah dehidrasi, menjaga kelembaban kulit, pengaturan suhu, serta memiliki sifat penyembuhan diri. Kulit mempunyai ikatan yang kuat terhadap air. Apabila kulit mengalami luka atau retak, daya ikat terhadap air akan berkurang. Keringat tersebut menguap sehingga tubuh terasa dingin. Ketika seseorang merasa kedinginan, pembuluh darah dalam kulit akan menyempit.

    2.     Pelindung tubuh
Fungsi utama kulit adalah sebagai pelindung dari berbagai macam gangguan dan rangsangan dari luar. Fungsi perlindungan ini terjadi melalui mekanisme biologis, seperti pembentukan lapisan tanduk secara terus menerus (keratinisasi dan pelepasan sel-sel yang sudah mati), pembentukan pigmen melanin untuk melindungi kulit sinar radiasi ultraviolet, sebagai peraba dan perasa, serta pertahanan terhadap infeksi dari luar.

    3.     Menyimpan kelebihan lemak
Gangguan fisik dan mekanik ditanggulangi dengan adanya bantalan lemak subkutan, ketebalan lapisan kulit, serta serabut penunjang pada kulit. Gangguan kimiawi ditanggulangi dengan adanya lemak permukaan kulit yang berasal dari kelenjar kulit yang mempunyai pH 5,0-6,5.

    4.     Mengatur suhu tubuh
Kulit menjaga suhu tubuh agar tetap normal dengan cara melepaskan keringat ketika tubuh terasa panas.
    5.     Tempat pembuatan vitamin D dari pro vitamin D dengan bantuan sinar matahari yang mengandung ultraviolet.

D.     Proses Pembentukan dan Pengeluaran Keringat
Bila suhu tubuh kita meningkat atau suhu udara di lingkungan kita tinggi, pembuluh-pembuluh darah di kulit akan melebar. Hal ini mengakibatkan banyak darah yang mengalir ke daerah tersebut. Karena pangkal kelenjar keringat berhubungan dengan pembuluh darah maka terjadilah penyerapan air, garam dan sedikit urea oleh kelenjar keringat. Kemudian air bersama larutannya keluar melalui pori-pori yang merupakan ujung dari kelenjar keringat. Keringat yang keluar membawa panas tubuh, sehingga sangat penting untuk menjaga agar suhu tubuh tetap normal. Ketika suhu di keliling kita panas maka kulit akan menagtur suhu tubuh dengan banyak mengeluarkan keringat dan urin yang dihasilkan lebih sedikit. Sebaliknya ketika suhu dingin maka tubuh  hanya sedikit memproduksi keringat dan pengeluaran air lebih banyak melalui ginjal (urin).
Proses pengeluaran keringat diatur oleh hipotalamus (pada otak). Hipotalamus dapat menghasilkan enzim brandikinin yang bekerja mempengaruhi kegiatan kelenjar keringat. Perubahan suhu akan merangsang pusat pengatur suhu (hipotalamus). Ransangan tersebut akan diteruskan oleh saraf simpatetik ke kelenjar keringat selanjutnya, kelenjar keringat akan menyerap air garam dan sedikit urea, dari kapiler dara dan kemudian mengirimnya ke permukaan kulit dalam bentuk keringat.

PENUTUP

Adapun kesimpulan yang didapat pada makalah sistim gerak aktif pada penyakit hernia inguinalis adalah:

·         Kulit terdiri dari tiga lapisan jaringan yang mempunyai fungsi dan karakteristik berbeda. Ketiga lapisan tersebut yaitu: lapisan epidermis, lapisan dermis, dan lapisan subkutan.

·         Fungsi kulit antara lain sebagai berikut: Mengeluarkan keringat, pelindung tubuh, menyimpan kelebihan lemak, mengatur suhu tubuh, Tempat pembuatan vitamin D dari pro vitamin D dengan bantuan sinar matahari yang mengandung ultraviolet.

·         Proses pengeluaran keringat diatur oleh hipotalamus (pada otak). Hipotalamus dapat menghasilkan enzim brandikinin yang bekerja mempengaruhi kegiatan kelenjar keringat.

 

B.        Saran

Berdasarkan penulisan makalah ini, maka penulis menyampaikan saran sebagai berikut:
Makalah  ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini pada materi sistem gerak aktif khususnya mengenai sistem ekskresi pada kulit.


DAFTAR PUSTAKA


Abdullah. 2001. Sitem Integumen. Surabaya: Reski Pratama

Alya. 2004. Kulit. pharzone.com/materi%20kuliah/anfis%202/kulit.pdf. 16-10-2012. 21.00 WIB.

Fatah, Gatot, 2012. Kulit. Jakarta: Erlangga

            Graham-Brown, R. 2005. Dermatologi. Erlangga : Jakarta.
Moeloek, N. 2007. Sistem integumentum : Embriologi, Penyakit kulit, dan Kultur jaringan kulit. www.pdf.kq5org/doc/jaringankulit. 22-10-2018. 20.54 WIB.

            Stockley, C. 2005. Kamus biologi bergambar. Erlangga : Jakarta.

No comments:

Post a Comment