A.
Latar
Belakang
Hewan dan manusia mempunyai kemampuan bergerak dan
berpindah tempat karena adanya kerja sama antara rangka dan otot. Otot menempel
dan menghubungkan tulang dengan kulit. Otot mempunyai kemampuan untuk
berkontraksi sehingga dapat menggerakkan tulang dan kulit. Oleh karenanya, otot
disebut alat gerak aktif, sedangkan tulang disebut alat gerak pasif.
Menurut bentuk dan cara kerjanya terdapat 3 macam otot,
yaitu: otot polos, otot lurik, dan otot jantung. Sekitar 40% berat dari tubuh
kita adalah otot. Pergerakan otot terjadi secara sadar dan tidak sadar. Otot
lurik bekerja secara sadar sedangkan otot polos dan otot jantung bekerja secara
tidak sadar. Pergerakan otot sadar diawali dengan adanya sebuah sinyal dari
syaraf motorik (gerak) yang memerintahkan agar otot ini bergerak sesuai dengan
batasan kemampuan gerakannya. Tanggapan atau reaksi otot ini sepenuhnya
tergantung pada kondisi otot itu sendiri. Sehingga apabila kondisi otot
tersebut terganggu, maka pergerakan yang terjadi akibat kontraksi otot tersebut
akan berjalan lambat dan tidak maksimal.
Miopati merupakan berbagai gangguan atau penyakit yang
disebabkan oleh perubahan anatomis, dan biokimia pada dan di sekeliling lempeng
akhir motorik, dalam serat otot, dan tidak disebabkan oleh sistem saraf.
Miopati terbagi menjadi miopati primer dan miopati sekunder. Salah satu
penyakit yang termasuk kedalam miopati primer adalah Duchenne Muscular Dystrophy (DMD) yaitu penyakit hereditas terkait
kromosom X yang disebabkan adanya mutasi pada gen distrofin.
Berdasarkan pemaparan tersebut, penulis mengambil judul
ini untuk menggali lebih jauh pengetahuan tentang Duchenne Muscular Dystrophy (DMD)
Berdasarkan latar
belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah “Bagaimana cara mengetahui karakteristik
Duchenne Muscular Dystrophy (DMD) ?”
Adapun
tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik
penyakit Duchenne Muscular
Dystrophy (DMD)
1 BAB II
A. Kajian
Pustaka
1. Sistem Gerak Aktif
Otot adalah sebuah jaringan dalam tubuh manusia dan hewan yang berfungsi sebagai alat gerak aktif yang menggerakkan tulang. Cara kerja otot ialah dengan berkontraksi dan berelaksasi. Ketika otot berkontraksi menyebabkan otot akan memendek dan mengeras pada bagian tengah otot menggelembung atau membesar sehingga tulang tempat otot melekat tersebut akan memendek dan terangkat atau tertarik.
Sistem gerak aktif dibedakan menjadi dua, yaitu gerak sinergis dan gerak antagonis. Gerak sinergis ialah gerak yang dilakukan oleh otot-otot yang arahnya sama. Contoh gerak sinergis ialah gerakan yang terjadi karena kerja sama antara otot pronator kuadratus dan otot pronator teres yang mengakibatkan gerakan tangan secara menelungkup dan menengadah. Gerakan otot-otot antara tulang rusuk menyebabkan gerak tulang rusuk ketika kita bernafas. Sedangkan gerak antagonis ialah gerak yang dilakukan oleh otot-otot yang arahnya berlawanan. Contoh gerak antagonis adalah kerja otot trisep dan otot bisep pada lengan. Ketika otot bisep berkontraksi, otot trisep akan berelaksasi sehingga lengan terangkat begitupun sebaliknya.
2.
Klasifikasi
Otot
Menurut
bentuk dan cara kerjanya terdapat 3 macam otot, yaitu:
a. Otot
Polos (otot volunter)
·
Nama
lain : otot alat-alat dalam / visceral
/ musculus nonstriated / otot
involunter.
·
Struktur
: bentuk serabut panjang seperti kumparan, dengan ujung runcing, dengan inti
berjumlah satu terletak dibagian tengah.
·
Kontraksi
: tidak menurut kehendak atau diluar kendali sistem saraf pusat, gerakan
lambat, ritmis dan tidak mudah lelah.
·
Otot
polos adalah salah satu otot yang mempunyai bentuk yang polos dan bergelondong.
Cara kerjanya tidak disadari (tidak sesuai kehendak) / inventory, memiliki satu nukleus yang terletak di tengah sel. Otot
ini biasanya terdapat pada saluran pencernaan seperti : lambung dan usus.
b. Otot
Lurik ( otot rangka)
·
Nama
lain : otot rangka, otot serat lintang (musculus
striated)
·
Struktur
: serabut panjang, berwarna/lurik dengan garis terang dan gelap, memiliki inti
dalam jumlah banyak dan terletak dipinggir.
·
Kontraksi
: menurut kehendak kita (dibawah kendali sistem saraf pusat), gerakan cepat,
mudah, kuat, mudah lelah dan tidak beraturan.
·
Otot
rangka merupakan jenis otot yang melekat pada seluruh rangka, cara kerjanya
disadari (sesuai kehendak), bentuknya memanjang dengan banyak lurik-lurik,
memiliki nukleus banyak yang terletak di tepi sel. Contoh : otot pada lengan.
c. Otot Jantung
(otot kardiak)
·
Nama
lain : myocardium atau musculus
cardiata atau otot involunter.
·
Struktur
: bentuk serabutnya memanjang, silindris, bercabang. Tampak adanya garis terang
dan gelap. Memiliki satu inti yang terletak di tengah.
·
Kontraksi
: tidak menurut kehendak, gerakan lambat, ritmis dan tidak mudah lelah.
·
Otot
jantung hanya terdapat pada jantung. Otot jantung adalah satu-satunya otot yang
memiliki percabangan yang disebut duskus interkalaris. Otot ini juga memiliki
kesamaan dengan otot polos dalam hal
cara kerjanya yakni involuntary
(tidak disadari).
3.
Duchenne
Muscular Dystrophy (DMD)
DMD merupakan
penyakit dengan kelainan X-linked resesif, biasanya juga disebut pseudohypertrophic muscular distrophy,
distrofi jenis ini paling sering ditemukan dengan insiden kejadian 30 dari
100.000 kelahiran bayi
laki-laki. Anak
laki-laki yang terkena terlihat normal pada saat lahir tetapi kemudian menjadi
lemah saat usia 5 tahun dan kelemahannya ini akan membuatnya bergantung pada
kursi roda ketika usianya menjelang 10 hingga 12 tahun. DMD terus berjalan progresif hingga terjadi
kematian pada usia 20-an. Kelemahan dimulai pada otot-otot lengkung panggul
yang kemudian meluas kelengkung bahu. Perubahan patologis juga ditemukan pada
jantung dan gangguan kognitif tampaknya merupakan komponen penyakit
tersebut.
DMD disebabkan oleh mutasi gen yang
mengkode distrophin, protein a427-kD yang berlokasi pada permukaan
sarkolema di serabut otot, dimana protein ini bertanggung jawab atas tranduksi
gaya kontraktil dari sarkomer intrasel ke matriks ekstrasel. Mutasi yang
umum terjadi adalah delesi. Pada otot pasien hampir selalu tidak terdapat
distrofin yang bisa dideteksi lewat pemulasan atau pemeriksaan biokimiawi
2 BAB III
A. Penyebab Duchenne Muscular Dystrophy (DMD)
Duchenne muscular dystrophy (DMD)
merupakan penyakit distrofi muskular progresif, bersifat herediter, dan
mengenai anak laki-laki. Insidensi penyakit itu relatif jarang, hanya sebesar
satu dari 3500 kelahiran bayi laki-laki. Penyakit tersebut diturunkan melalui X-linked resesif, dan hanya mengenai
pria, sedangkan perempuan hanya sebagai karier. Pada DMD terdapat kelainan
genetik yang terletak pada kromosom X, lokus Xp21.22-4 yang bertanggung jawab
terhadap pembentukan protein distrofin. Perubahan patologi pada otot yang
mengalami distrofi terjadi secara primer dan bukan disebabkan oleh penyakit
sekunder akibat kelainan sistem saraf pusat atau saraf perifer.
Distrofin
merupakan protein yang sangat panjang dengan berat molekul 427 kDa2,4,dan
terdiri dari 3685 asam amino. Gen distrofin merupakan salah satu gen terbesar
dalam genom manusia dengan ukuran lebih dari 3 Mb pada kromosom X, memilki 79
ekson serta mengkode 14 kb mRNA. Kurang dari 1% dari total gen akan
ditranskripsi menjadi RNA matur melalui proses splicing yang sangat banyak sehingga
berkontribusi besar terhadap kejadian mutasi pada gen. DMD kebanyakan akibat
delesi pada segmen gen yang bertanggung jawab terhadap pembentukan protein
distrofin pada membrane sel otot, sehingga menyebabkan ketiadaan protein
tersebut dalam jaringan otot.
B. Gejala Duchenne Muscular Dystrophy (DMD)
Gejala DMD
belum terlihat ketika bayi lahir tetapi
sudah mulai muncul kelainan pada masa bayi dengan nekrosis serat otot dan enzim
creatine kinase tinggi. Secara klinis baru terlihat kelainan pada anak ketika
berusia 3 tahun atau lebih. Anak terlambat berjalan dan sering jatuh, otot
betis anak mengalami hipertropi, anak mengalami kesulitan berdiri dari posisi
tidur maupun duduk (Gower’s sign), anak mengalami kelemahan otot tungkai bawah,
anak mengalami kesulitan berlari atau melompat. Gaya berjalan yang tidak normal
sering terlihat pada usia 3-4 tahun.
Otot-otot
pelvis lebih dulu terkena dampak dari DMD daripada otot bahu. Karena kelemahan
otot gluteus medius yang berfungsi sebagai penyerap tekanan, ketika anak
berjalan cenderung gemetar sehingga menimbulkan gaya berjalan yang
tertatih-tatih (waddling gait). Untuk menjaga keseimbangan tubuh timbulah
lordosis. Pada usia prasekolah, anak mengalami Gower’s maneuver. Hal ini
terjadi karena kelemahan otot paha terutama gluteus
maximus. Anak kesulitan naik tangga sehingga menggunakan tangannya untuk
menapak pada anak tangga. Anak cenderung berjalan dengan jari kaki (jinjit)
disebabkan kontraktur otot gastrocnemius dan menimbulkan rasa nyeri pada otot
tersebut.

Gambar
1. Gower
Maneuver.
Refleks tendon menurun dan dapat hilang
karena hilangnya serat serta otot, reflex patella cenderung menurun diawal
penyakit sedangkan reflecs Achiles biasanya masih dapat muncul dalam beberapa
tahun. Kiphoskoliosis bisa berkembang setelah anak tidak bisa berjalan. Dengan
mempertahankan postur tegak dengan penopang kaki bisa membantu mencegah
skoliosis.

Gambar
2. Perubahan postur tubuh penderita DMD
Kelemahan intelektual terjadi pada
penderita DMD. Kemampuan yang lebih terganggu adalah kemampuan verbal dan ini
tidak bersifat progesif. Rata-rata IQ penderita DMD sekitar 83 dan 20-30%
mempunyai IQ < 70%.
Pernapasan penderita DMD juga
terganggu karena kelemahan otot interkostalis, otot diafragma dan skoliosis
berat. Kelemahan otot mempengaruhi semua aspek aspek dari fungsi paru-paru
termasuk mucociliary clearance,
pertukaran gas, dan kontrol pernapasan. Penderita juga mengalami gangguan
jantung. Kardiomiopati dapat terjadi berupa pembesaran jantung, takikardi
persisten, dan gagal jantung terjadi pada 50%-80% penderita.
C.
Diagnosis
Duchenne Muscular Dystrophy (DMD)
Diagnosis dilakukan berdasarkan
anamnesis berupa pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis adalah
kegiatan komunikasi yang dilakukan antara dokter sebagai pemeriksa dan pasien
yang bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang penyakit yang diderita dan
informasi lainnya yang berkaitan sehingga dapat mengarahkan diagnosis penyakit
pasien. Adapun anamnesis pada penderita DMD antara lain:
1. Pemeriksaan
Fisik
Pemeriksaan
dilakukan secara langsung dengan mengamati tanda-tanda fisik yang tampak,
disesuaikan dengan perubahan fisik penderita DMD.
2. Pemeriksaan
Penunjang
a. Pemeriksaan
Laboratorium
Kadar creatine kinase
serum adalah yang paling bernilai dan umum digunakan untuk mendiagnosis DMD.
Kadar creatine kinase serum berkisar 10-20 kali normal atau lebih (normal:
<160 IU/L)
b.
Elekromiogram (EMG)
Elektromiogram
menunjukkan gambaran miopati dan tidak spesifik untuk DMD. EMG menunjukkan
fibrilasi, gelombang positif, amplitude rendah, potensial motor unit polipasik
kadang-kadang frekuensi tinggi.
c.
Biopsi
Secara
histologist menunjukkan variasi ukuran serat, degenerasi dan regenerasi serat
otot, kelompok fibrosis endomysial, ukuran serat lebih kecil dan adanya
limposit. Degenerasi melebihi regenerasi dan terjadi penurunan jumlah serat
otot, digantikan dengan lemak dan jaringan konektif (fibrosis)

Gambar 3.
Biopsi Otot a. normal. b. biopsi abnormal: ukuran serat bervariasi, regenerasi,
infiltrasi sel, dan fibrosis. c. analisis immunofloresen normal. d. hilangnya
sarkolema.
d.
Pemeriksaan Genetik
Pemeriksaan
genetik untuk mengetahui adanya delesi pada kedua titik penting gen dengan PCR (Polymerase Chain Reaction) multipleks
dapat mengidentifikasi adanya delesi sekitar 60% pasien, tetapi teknik ini
tidak bisa digunakan mengidentifikasi adanya penduplikasian atau untuk
menentukan genotip pada wanita carrier. Untuk menentukan carrier dengan multiplex
amplifiable probe hybridization. Pemeriksaan DNA pada sel darah putih atau
sel otot akan dapat memperlihatkan adanya mutasi gen dystropin.
D.
Pengobatan
Duchenne Muscular Dystrophy (DMD)
Saat ini belum ada terapi yang efektif untuk DMD. Pengobatan DMD melibatkan multidisiplin keahlian diantaranya neurologi, psikiatri, bedah ortopedi, kardiologi, pulmonologi, gizi, dan fisioterapi. Berikut beberapa cara yang ditempuh dalam menangani penderita DMD.
a. Pemberian
obat-obatan.
Untuk
memperlambat progresifitas penyakit dapat digunakan prednison, prednisolon,
deflazacort, yang dapat menurunkan apoptosis dan menurunkan kecepatan timbulnya
nekrosis. Pemberian
steroid lebih awal dapat meningkatkan kekuatan otot sehingga kemampuan berjalan
pasien diperpanjang sampai usia belasan dan menurunkan kejadian skoliosis,
kontraktur, menjaga fungsi pernapasan dan fungsi jantung.
b. Pemberian
steroid
Pemberian
steroid sebelum hilangnya kemampuan berjalan. Tetapi belum terdapat bukti atas
efek terapi steroid setelah hilangnya kemampuan berjalan pada pasien.
c. Fisioterapi
Fisioterapi
penting untuk pemeliharaan fungsi otot dan dapat mencegah terjadinya kontraktur
pada penderita DMD. Tetapi jika telah muncul kontraktur, fisioterapi tidak
banyak bermanfaat. Sembilan puluh persen penderita cendrung timbul skoliosis. Pengawasan
terhadap perkembangan adanya skoliosis harus dimulai sebelum hilangnya
kemampuan berjalan termasuk profilaksis dengan fisioterapi dan tempat duduk
yang sesuai untuk mencegah ketidaksimetrisan pelvis dan memberikan dukungan
postural. Skoliosis yang terjadi secara klinis, diindikasikan dikoreksi dengan pembedahan.

Gambar 4.
Fisioterapi
d. Pemasangan
ventilasi
Gangguan
respirasi pada penderita distrofi muskular Duchenne bisa diramalkan dan
berhubungan dengan kekuatan otot secara keseluruhan, sehingga anak yang kehilangan
kemampuan berjalan cendrung lebih dini memerlukan bantuan ventilasi
dibandingkan anak yang masih dapat berjalan. Pada dasarnya fungsi respiratori
pada anak yang masih bisa berjalan adalah normal dan permasalahan yang
berhubungan dengan gangguan respirasi tidak terlihat hingga hilangnya kemampuan
berjalan.

Gambar 5.
Pemasangan ventilasi pada pasien DMD untuk mengatasi gangguan tidur akibat
gangguan pernapasan.
e. Pemeriksaan
jantung dan pemberian ACE inhibitor jika terjadi kelainan.
Kardiomiopati
merupakan komplikasi umum yang terjadi pada 10% penderitaDMD. Pemeriksaan
jantung harus dilakukan setiap 2 tahun sesudah usia 10 tahun dan setiap tahun
atau lebih sering jika terdeteksi ketidak normalan. Diperkirakan 20-30% terjadi
kerusakan ventrikel kiri pada pemeriksaan echokardiografi pada usia 10 tahun. Jika
ditemukan kelainan dapat diberikan ACE inhibitor dan beta bloker, ditambahkan
diuretik bila terjadi gagal jantung.

Gambar
6. Pemeriksaan jantung penderita DMD
E. BAB IV
A. Kesimpulan
Duchenne muscular dystrophy (DMD)
merupakan penyakit distrofi muskular progresif, bersifat herediter, dan
mengenai anak laki-laki. Insidensi penyakit itu relatif jarang, hanya sebesar
satu dari 3500 kelahiran bayi laki-laki. Penyakit tersebut diturunkan melalui X-linked resesif, dan hanya mengenai
pria, sedangkan perempuan hanya sebagai karier. Pada DMD terdapat kelainan
genetik yang terletak pada kromosom X, lokus Xp21.22-4 yang bertanggung jawab
terhadap pembentukan protein distrofin. Perubahan patologi pada otot yang
mengalami distrofi terjadi secara primer dan bukan disebabkan oleh penyakit
sekunder akibat kelainan sistem saraf pusat atau saraf perifer
No comments:
Post a Comment